PENGOBATAN PRAKTIS TERHADAP PASIEN GANGGUAN JIWA
(Oleh. Ibrahim Nuhriawangsa,)
PENDAHULUAN
Sejak berpuluh-puluh tahun yang telah lalu para ahli Kedokteran terutama para ahli Ilmu Kedokteran Jiwa berusaha mencari, menyelidiki serta mencoba berbagai obat-obatan dan cara pengobatan terhadap pasien gangguan jiwa yang se-efisien mungkin dengan hasil yang cukup baik yang mereka harapkan.
Seperti kita telah mengetahuinya bahwa di jaman dahulu bahkan sampai sekarang para pasien gangguan jiwa terutama Psikosis adalah dianggap sebagai suatu hal yang mistik yaitu suatu keadaan kemasukan setan.
Hal ini dikenal di berbagai daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke meskipun dengan istilah yang berlain-lainan tetapi maksudnya adalah sama.
Sebagai contoh kami kemukakan disini umpamanya :
Di Jawa Barat dikenal dengan istilah “kasurupan”, “diusap setan”, “kasambet”, dan lain-lain.
Di Jawa Tengah dikenal dengan istilah “kesurupan”, “kepancingan”, “kesambet”, dan lain-lain.
Di Bali dikenal dengan istilah “bebainan”, “buduh”, dan lain-lain.
Maka tidaklah mengherankan apabila cara pengobatan dijalankan pula dengan secara majik-mistik dengan maksud mengusir setan dari dalam tubuh pasien tersebut yang biasanya dikerjakan oleh dukun atau orang-orang yang berkecimpung dalam soal-soal kebatinan.
Demikian pula pada abad-abad yang lain cara pengobatan ini berupa pengasingan pasien dari lingkungan orang-orang sekitarnya, disiksa, dirantai, dan lain-lain dengan maksud mengusir setan atau roh halus yang ada didalam tubuh pasien, sehingga merupakan tindakan-tindakan di luar perikemanusiaan.
Baru kira-kira pada abad ke 15 sudah mulai ada hospitalisasi untuk pasien-pasien gangguan jiwa meskipun cara-cara pengobatan di atas masih sering juga dijalankan. Kemudian pada kira-kira pada akhir abad ke 18 atau permulaan abad ke 19 diketemukan beberapa obat-obatan untuk pasien-pasien gangguan jiwa di antaranya kami sebutkan disini :
Tahun 1826 diketemukan Bromida oleh Balaed
Tahun 1836 diketemukan Chloralhydrat oleh Liebig
Tahun 1903 diketemukan Barbiturat oleh Fisher
Tahun 1930 diketemukan Amphetamin oleh Piness
Tahun 1947 diketemukan Scopolamin oleh Nieman
Obat-obatan seperti ini sampai sekarang masih dipakai untuk dengan maksud membuat tidur, menenangkan, merangsang dan lain-lain tergantung dari obat-obatan yang mana yang dipakai dan untuk macam gangguan jiwa yang mana yang dituju.
Selain penemuan obat-obatan seperti di atas, berturut-turut dikemukakan pula cara pengobatan baru dan obat-obatan baru yang makin lama makin baik hasilnya untuk kesembuhan pasien-pasien gangguan jiwa.
Cara pengobatan baru serta obat-obatan baru tersebut adalah :
Tahun 1880 Hypnotisme oleh Dean Martin Charcot
Tahun 1890 Hydroterapy dan Werktherapy
Tahun 1893 Psychoanalisis oleh Sigmund Freud
Tahun 1903 Individual Psychology oleh Alfred Adler
Tahun 1912 Analitic Psychology oleh CG. Jung
Tahun 1915 Psychobiology oleh Adolf Mayer
Tahun 1946 Psychodrama oleh Moreno
Tahun 1946 Group Psychoterapy oleh Nieman
Tahun 1948 Narcosynthetis oleh Gringker Spiegel
Tahun 1937 Electro Convulsive Treatment oleh Cerletti-Bini
Tahun 1937 Psychosurgery oleh Egaz Moniz
Tahun 1933 Camphor Injeksi oleh Meduna
Tahun 1937 Cardiazol Shock Treatment oleh Meduna
Tahun 1952 diketemukan Largactil oleh Specia
Tahun 1952 diketemukan Raufolia oleh Hakim
Tahun 1957 diketemukan Mephrobamate
Tahun 1960 diketemukan Librium, Valium oleh Roche
Penemuan ini makin hari makin bertambah dan makin banyak pula hasil kesembuhan gangguan jiwa yang bisa dijalani, sehingga berpengaruh pula terhadap cara-cara pengobatan dan perawatan untuk pasien-pasien gangguan jiwa yaitu lebih human dibanding dengan cara-cara yang sudah-sudah.
Sayang sekali pemberian pengobatan terhadap pasien-pasien ini tidak selalu bisa dikerjakan di dalam Rumah Sakit tetapi juga dikerjakan di luar Rumah Sakit, yang berarti di luar pengawasan yang benar-benar dapat memberikan jaminan atas berhasilnya pengobatan terhadap pasien tersebut. Lebih-lebih lagi bila kita mengingat keadaan sekitarnya yaitu adanya tanggapan yang negatif terhadap gangguan jiwa, sering menyulitkan untuk berhasilnya suatu bentuk pengobatan.
Jika hal seperti ini tidak diperbaiki maka akan sulit untuk mengatakan bahwa pengobatan yang diberikan adalah akan mendapat hasil yang maksimal meskipun pengobatan tersebut adalah merupakan rangkaian penyelidikan-penyelidikan yang seksama sebelumnya.
Kita semua sudah maklum bahwa tujuan dari pengobatan terhadap gangguan apapun terlebih untuk gangguan jiwa adalah dengan maksud untuk memperbaiki pasien untuk dapat kembali kepada kehidupannya yang semula yaitu ditengah-tengah keluarganya dan masyarakat sekitarnya, seperti keadaan sebelum sakit atau kalau bisa malah yang lebih baik dari keadaan sebelum sakit.
Jelaslah bahwa pengobatan gangguan jiwa merupakan soal yang banyak sangkut-pautnya dengan berbagai masalah hingga merupakan hal yang kompleks.
Dengan demikian untuk berhasilnya suatu pengobatan di dalam maupun di luar Rumah Sakit haruslah diikut sertakan individu-individu lain yang erat hubungannya dengan pasien sehingga ada pengertian yang cukup untuk terciptanya suatu tujuan pengobatan.
BEBERAPA KETENTUAN :
Pengobatan : setiap tindakan yang ditujukan untuk maksud terciptanya
suatu penyembuhan dari gangguan.
Praktis : sehari-hari gampang dilakukan.
Gangguan jiwa : suatu perubahan dalam fungsi jiwa yang menyebabkan
adanya gangguan pada kesehatan jiwa.
Pasien : setiap orang yang menderita gangguan jiwa dalam pengawasan
di luar maupun di dalam Rumah Sakit.
TINJAUAN :
Bila kita telaah berbagai cara pengobatan serta obat-obatan yang telah didapatkan sejak dahulu sampai sekarang seperti yang contohnya sebagian telah dikemukakan di atas, maka jelaslah ada beberapa macam bentuk pengobatan yang bisa digolongkan seperti berikut :
1. pengobatan organobiologis yang berupa :
psikofarmaka : 1. transquilizer atau obat-obat penenang, mayor transquilizer maupun minor transquilizer. Dari mayor transquilizer atau neuroleptik dikenal:
derivat Raufolia Serpentina up. Resernin.
Derivat Phenothiazin ump. Chlorpromazine.
Melleril, stelazin, anatensol, dll
Derivat thioxantin ump. Taractan.
Sedang dari minor transquilizer dikenal beberapa derivat yaitu derivat propandiol yang kita kenal sebagai mephrobamate; derivat benzodiazepam yaitu Librium dan Valium.
2. antidepresant/psychic energizer/psychomotor stimulant dalam bentuk obat yang langsung merangsang ump. Sulfas amphetamin atau golongan MAO I ump. Marplan ada juga yang merupakan derivat phenothiazin yaitu Tofranyl dan Laroxyl.
Therapy fisik : ECT=Electro Convulsive Treatment
IST=Insuline Shock Treatment./ICT=Insuline Coma Therapy
CST=Cardiazol Shock Treatment./PCT=Pharmacological
Convulsive Therapy.
2. pengobatan psychologis : ini berupa bermacam-macam Psychoterapy.
Melihat jumlah individunya dikenal individual dan grouppsychotherapy.
Verbal dan non-verbal psychoterapy bila kita meninjau dengan alat komunikasi apa yang kita pakai.
Dan bila melihat tehnik yang kita pakai pada psychoterapy maka ada Supportive Psychoterapy dan Expressive Psychotherapy dalam bentuk re-edukatif maupun re-constructif.
3. pengobatan sosio-kultural yaitu dalam bentuk rekreasi therapy dan werktherapy/occupational therapy.
Dari kelompok-kelompok pengobatan seperti tersebut di atas dapat kita simpulkan pula bahwa pengobatan-pengobatan tersebut ditujukan terhadap 3 kelompok gangguan jiwa yaitu :
- gangguan jiwa yang akut
- gangguan jiwa yang dalam penyembuhan
- gangguan jiwa yang kronis
Atau lebih sederhana lagi yaitu ditujukan untuk gangguan jiwa yang dalam keadaan gaduh gelisah dan gangguan jiwa yang dalam keadaan tenang, di mana pengobatan itu bisa/mungkin dijalankan di dalam Rumah Sakit, di luar Rumah Sakit termasuk pengobatan dalam keadaan darurat.
Untuk Rumah-rumah Sakit Jiwa atau Rumah Sakit Umum di mana ada Psychiatric Wardnya bagi kita tidak begitu jadi persoalan dalam memberikan pengobatan, oleh karena tenaga serta situasinya setidak-tidaknya sudah disesuaikan dengan keadaan yaitu untuk pasien gangguan-gangguan jiwa. Tetapi bagi pengobatan di luar hal ini sering-sering sukar untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari yang di Rumah Sakit Jiwa atau di Psychiatric Wards; lebih-lebih lagi untuk pengobatan yang dikerjakan di luar Rumah Sakit di mana suasana lingkungannya kurang dapat memahami akan maksud dari pengobatan di atas. Dari pengalaman menyatakan bahwa dengan dikirimkannya suatu tim yang mengerjakan kunjungan rumah terhadap pasien-pasien yang keluar dari Rumah Sakit dan masih memerlukan pengobatan, ternyata pengobatan di luar Rumah Sakit ini dapat diintensifkan. (Dibagian Neuro-Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada hal ini sudah dikerjakan sejak tahun 1968 dengan mengirimkan co-assisten secara bergiliran yang bertugas di antaranya mengontrol pengobatan serta memberikan penerangan terhadap mereka yang berhubungan langsung dengan pasien, agar tidak memberikan sikap-sikap yang negatif terhadap tujuan-tujuan dari pengobatan tersebut).
Kita tahu bahwa sering sekali pasien pulang dalam keadaan masih perlu pengobatan atau pulang belum masanya sebagai akibat alasan-alasan ekonomi atau alasan lain yang memaksa pasien pulang. Banyak pula yang sebaliknya yaitu pasien sudah sembuh dan siap kembali kekeluarganya tetapi keluarganya tidak mau menerimanya atau bilapun pulang dan diterima tetapi kontrol kerumah sakit tidak teratur atau bahkan tidak sama sekali. Hal-hal yang seperti inilah yang kerap kali menjadikan pengobatan mengalami kegagalan dalam tujuannya secara total.
Belum lagi pasien-pasien yang datang kepada kita sudah dalam keadaan menyedihkan akibat kurangnya pengertian terhadap gangguan jiwa sehingga mereka membawa pasien ke alamat yang salah yaitu ke profesi di luar bidang psikiatri atau tempat-tempat lainnya yang memberikan cara pengobatan yang kurang wajar. Harus kita akui bahwa kita memang masih belum bisa menghilangkan profesi-profesi di luar bidang psikiatris ini karena memang ada beberapa gangguan jiwa yang ringan yang bisa diselesaikan oleh mereka tanpa menimbulkan komplikasi apa-apa. Sebagai contoh umpamanya di Yogyakarta para pasien gangguan jiwa terutama yang berasal dari desa-desa sudah meminta pengobatan sebelumnya kepada dukun atau orang –orang yang dianggap cukup tau tentang soal-soal kebatinan sebelum mereka datang mengobatkan ke Rumah Sakit. Menurut penyelidikan bagian Neuro-Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada lebih dari 50% pasien gangguan jiwa / diduga menderita gangguan jiwa datang mengobatkan kepada dukun-dukun atau aliran kebatinan yang menyelenggarakan berbagai cara pengobatan. (ini didasarkan atas perbandingan antara pasien baru yang datang ke poliklinik psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah mada dengan pasien baru yang tercatat pada aliran pedukunan / kebatinan yang memberi pengobatan, selama dari tahun 1966 s/d 1969. Di kota madya Yogyakarta terdapat 26 aliran kebatinan / pedukunan yang terdaftar pada Kejaksaan Negeri. Dari ke 26 aliran ini ada yang mengerjakan pengobatan sebanyak 10 aliran dan hanya 3 aliran saja yang mempunyai catatan lengkap mengenai jumlah kunjungan yaitu sebanyak 464 orang selama th. 1966 s/d 1969. Sedang yang datang ke Poliklinik Psikiatri tercatat sebanyak rata-rata 477 setiap tahun.
Jadi jelaslah dari th. 1966 s/d 1969 yang datang ke beberapa aliran kebatinan / pedukunan ada 464 orang rata-rata setahun sedang ke poliklinik Psikiatri sebanyak 477 orang rata-rata setiap tahun, padahal yang tercatat ini hanya dari 3 aliran kebatinan / pedukunan saja, jadi berarti taksiran kita lebih dari 50% yang datang kepada mereka.
Selain itu didapat gambaran kasar bahwa yang datang kepada mereka dan dapat kesembuhan / pengurangan gejala-gejalanya adalah gangguan-gangguan jiwa dari golongan Psikoneurosis (Non-Psikotik). Jadi ternyata bahwa profesi-profesi seperti ini juga tidak bisa dianggap kecil artinya dalam menanggulangi gangguan jiwa. Oleh karena itu harus dipikirkan juga bagaimana sebaiknya kita menempatkan mereka dalam usaha untuk memajukan kesehatan jiwa ke tingkatan yang lebih tinggi dari sekarang. Lebih-lebih masyarakat kita pada umumnya masih mempunyai anggapan bahwa gangguan jiwa adalah gangguan yang aneh yang tidak bisa disembuhkan dengan cara-cara medis. Dan anggapan inilah yang sebagian besar mengakibatkan terlantarnya pasien dan berarti pula merupakan penutupan pintu terhadap masa depan mereka yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
BAGAIMANA SEBAIKNYA PENGOBATAN ITU DIJALANKAN :
Untuk mengharapkan hasil pengobatan yang benar-benar memuaskan adalah membutuhkan penyelidikan yang seksama yang tentunya akan memakan waktu yang tidak sedikit.
Kita sudah banyak membaca bagaimana hasil-hasil penyelidikan tentang pengobatan terhadap gangguan jiwa dari bermacam-macam obat-obatan ataupun cara pengobatan di negara-negara barat pada umumnya. Tetapi hal ini belum tentu cocok dengan kondisi-kondisi di negara kita terutama obat-obatan dalam bentuk psikofarmaka, sehingga perlu adanya research sendiri mengenai kasiat dari obat-obatan tersebut untuk negara kita, seperti yang sudah mulai dikerjakan dibeberapa Rumah Sakit Jiwa atau Psychiatric Ward di Jawa pada khususnya.
Oleh karena itu sementara waktu untuk praktisnya kita menggunakan cara-cara pengobatan atau obat-obatan yang sering dipakai, mudah didapat, murah harganya, cukup pemakaian dalam jangka pendek dan mempunyai efek samping sesedikit mungkin. Selain itu juga untuk memberikan pengobatan praktis terhadap pasien gangguan jiwa perlu adanya suatu sistem pandangan terhadap bentuk dari gangguan jiwa sesedikit mungkin. Hal ini bisa dikerjakan bila kita tidak memandang gangguan jiwa itu dari segi macam-macamnya melainkan dari segi keadaannya yaitu apakah gangguan jiwa itu dalam keadaan gaduh gelisah ataukah dalam keadaan tenang. Seperti sudah kita ketahui bahwa berbagai gangguan jiwa bisa ada dalam kedua keadaan ini; dengan demikian kita hanya mengenal dua keadaan gangguan jiwa.
Gangguan jiwa dalam keadaan gaduh gelisah :
Dalam keadaan ini kita harus bertindak secepat-cepatnya mengingat keselamatan pasien sendiri maupun orang-orang sekitarnya karena pada umumnya keadaan gangguan jiwa pada saat seperti itu membahayakan pasien sendiri serta membahayakan orang-orang sekitarnya.
Biasanya pasien dalam keadaan seperti ini keluarganya atau yang berkepentingan terhadap pasien membawanya ke Rumah Sakit atau minta pertolongan dokter terdekat, sehingga kemungkinan pengobatan berada di luar Rumah Sakit atau di dalam Rumah Sakit.
Untuk pengobatan di Rumah Sakit yang paling praktis adalah pemberian ECT tersendiri ataupun dikombinasikan dengan obat-obatan dalam bentuk suntikan atau hanya dengan suntikan saja tergantung keadaan gaduh gelisahnya. Bila keadaan gaduh gelisah itu sangat maka pengobatan itu berupa ECT dan suntikan major tranquilizer (largactil/klorpromasin sebanyak 50-100 mg intramuskuler+1-2 cc deladril) atau sedativ-hypnotic (Hydrobromas Scopolamin) sebanyak ½ mg subcutan/intramusculair) yang diberikan segera setelah mendapat ECT yaitu pada waktu pasien masih dalam keadaan tidak sadar hingga lama tidur dari pasien bisa diperpanjang. Untuk selanjutnya pengobatan bisa dilanjutkan secara per oral (lihat penggunaan psikotropik pada psikosis) atau injeksi tergantung dari keadaan yang dikomboinasikan dengan ECT bila memang masih diperlukan menurut kebutuhan.
Bila keadaan gaduh gelisah itu tidak sangat atau sedang saja maka pengobatan biasanya cukup dengan pemberian injeksi tranquilizer atau sedativ-hypnotic saja. Dibagian Neuro-psychiatri Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, kombinasi largactil (major tranquilizer), Hydromromas Scopolamin (Sedativ-Hypnotic) dan luminal (Hypnotic-Sedativ) merupakan kombinasi yang berhasil untuk menenangkan pasien dengan cara pemberian sebagai berikut :
1. Hydrobromas Scopolamin ini sebanyak ½ mg yang kemudian di tunggu selama ¼ - ½ jam, dan bila dalam waktu tersebut pasien masih menunjukkan kegelisahan maka diberikan
2. Largactil ini sebanyak 50 mg yang juga di tunggu selama ¼ - ½ jam yang bila belum berhasil menenangkan maka diberikan lagi
3. Luminal ini sebanyak 200 mg yang juga di tunggu antara ¼ - ½ jam dan bila ternyata masih belum tenang maka diberikan lagi HBr, Scopolamin ¼ mg yang di tunggu ¼ - ½ jam dan bila belum tenang lagi diberi luminal 100 mg dst. Bergantian sampai menjadi tenang.
Pada umumnya setelah selesai suntikan yang kedua pasien terus tidur atau menjadi tenang yang kemudian sudah mau diberi obat-obat peroral sebagai kelanjutannya.Bila yang dipakai hanya tranquilizer saja (largactil) maka diambil cara-cara sebagai berikut :
Dimulai dengan largactil ini sebanyak 50 mg + deladril 2 cc yang diulangi antara 6 – 8 jam menurut kebutuhan; dan apabila dalam 24 jam tidak memperlihatkan ketenangan maka dosis largactil tadi dinaikkan jadi 75 – 100 mg yang disuntikkan setiap antara 6 – 8 jam.
Pada umumnya sesudah suntikan waktu pemberiannya mencapai 24 jam atau selambat-lambatnya 48 jam pasien mulai memperlihatkan kerjasamanya untuk memakan obat peroral.
Untuk pengobatan di luar Rumah Sakit / keadaan darurat biasanya lebih tepat apabila dipakai cara-cara di atas karena tidak mungkin diberikan ECT sedang bentuk-bentuk therapi fisik yang lain (Insuline Coma Therapy, Cardiazol Shock Treatment resiko adalah terlalu besar.
Gangguan jiwa dalam keadaan tenang :
Pengobatan di sini terutama ditujukan terhadap kepentingan pasien agar mereka dipersiapkan untuk individu baru yang akan terjun kembali kelingkungan keluarga atau masyarakat sebelum sakit, atau ketempat lain di mana mereka nanti berkedudukan untuk menghabiskan masa-masa hidupnya. Oleh karena itu pengobatan di sini biasanya sudah tidak bersifat pengobatan psikofarmaka atau pengobatan fisik lagi yang primer, melainkan sudah menginjak ke pengobatan Psikologis (psikoterapi) dan pengobatan sosio-kultural; jadi benar-benar mengadakan pengobatan yang lebih berhati-hati dan terperinci karena didasarkan atas keadaan keseluruhan dari phisik maupun psikis dari pasien disertai rencana-rencana yang benar-benar terperinci dari permulaan sampai akhir.
Umpamanya saja dalam pemberian Werktherapy pada seorang pasien kita harus pula mempertimbangkan hobby pasien, pekerjaan pasien sebelum sakit dlsb. Dengan maksud agar penempatan pasien pada Werktherapy itu tidak mengalami kesulitan dan dapat berhasil dengan memuaskan.
Begitu pula pada pemberian Psikoterapi selain kerja sama antara pasien dan psikoterapis harus dibina, penting pula memilih setidak-tidaknya mengira-ira akan psikoterapi yang cocok untuk pasien sendiri dan psikoterapisnya. Seperti kita tahu bahwa dengan banyaknya aliran dalam psikoterapi serta bermacam-macam bentuk kepribadian psikoterapis sendiri sukar untuk pemilih psikoterapi yang cocok. Namun dengan berpegang kepada kebutuhan pasien pada saat mendapat psikoterapi pertama kali, maka kita dapat memulai salah satu bentuk psikoterapi tersebut. Meskipun akan ternyata nanti bahwa bermacam-macam psikoterapi dipakai tanpa terikat kepada salah satu aliran psikoterapi saja, asal garis-garis besar pelaksanaan psikoterapi tetap dipegang teguh.
Pada umumnya untuk berbagai gangguan jiwa psikoterapi dimulai dengan suppertive psychoterapy yang kemudian dilanjutkan dengan expressive psychoterapy, reconstructive maupun re-educative.
Sama halnya dalam menyelenggarakan terapi rekreasi bagi pemberi terapi tidaklah cukup mempunyai kecakapan dalam pendidikan jasmani umpamanya, tetapi juga harus mengerti mengenai psikodinamika agar dengan demikian pasien-pasien dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan pasien lainnya dan juga dengan pemberi terapi. Seperti kita ketahui bahwa dalam terapi rekreasi ini musik, kelompok-kelompok menyanyi, dansa, atletik, senam merupakan medium untuk pasien dalam mencurahkan isi hatinya, konflik batinnya, tekanan-tekanan batinnya serta terdapatnya penyesuaian baru dengan peserta terapi rekreasi ini serta dengan pemberi terapi.
Oleh karena pengobatan-pengobatan di atas merupakan persiapan pula untuk pasien-pasien kembali ke asalnya, maka harus dimasukkan pula dalam acara, persiapan-persiapan lingkungan famili dan masyarakat sekitarnya untuk penerimaan pasien masuk menjadi warga mereka. Tanpa persiapan-persiapan ini maka pengobatan yang sudah dijalankan tadi adalah sia-sia saja atau akan merupakan suatu kemunduran kembali dari usaha pengobatan serta pasien yang sudah siap untuk terjun kelingkungan mereka.
Dengan ini jelaslah bahwa untuk berhasilnya pengobatan, terutama pengobatan bagi pasien-pasien yang sudah dalam keadaan tenang perlu sekali adanya integrasi lingkungan pasien agar jerih payah dari pengobatan-pengobatan sebelumnya tidak sia-sia jadinya.
KESIMPULAN :
1. Masih perlu adanya penyelidikan yang seksama untuk menyelidiki pengaruh dari obat-obatan serta cara-cara pengobatan terhadap gangguan jiwa yang cocok dengan kondisi setempat, terutama sekali untuk pasien-pasien gangguan jiwa yang ada dalam keadaan gaduh gelisah dan keadaan tenang untuk mendapatkan suatu bentuk pengobatan yang benar-benar praktis.
2. Harus ditentukan bentuk kerja sama yang pasti dengan aliran-aliran kebatinan / kedukunan yang mempunyai sangkut paut dengan pengobatan pasien gangguan jiwa, karena soal ini merupakan hal yang tidak kecil artinya dalam meningkatkan kesehatan jiwa, apakah dalam bentuk kursus, upgrading dll.
3. Perlu adanya ikut serta instansi lain untuk membantu dalam mendidik keluarga serta lingkungan masyarakat demi tetap berhasilnya pengobatan-pengobatan yang sudah dijalankan di Rumah Sakit, sebelum mereka kembali ketempat semula.
KEPUSTAKAAN :
1. Alexander, Leo; Treatment of Mental Disorder; Philadelphia and London W.B. Saunders Company; 1953.
2. Ewalt, Jack R; Stecker, Edward A; Ebauch, Franklin G; Practical Clinical Pschiatryi; New York, Toronto, London, Mc.Graw Hill Book Company Inc; 1957.
3. Noves, Arthur P; Kolb. Lawrence C; Modern Clinical Pschiatry, Philadelphia & London; WB Saunders Company; 1957.
4. Nuhriawangsa Ibrahim; Pengobatan Psikosis Acuta di Bagian Neuro-Psikiatri Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada; unpublisched; 1970.
5. Nuhriawangsa Ibrahim; Sekitar Masalah Psikoterapi dalam hubungannya dengan Gangguan Mental; unpublisched; 1970.
6. Sadler, William S; Practise of Psikiatri; St. Louis The CV. Mosby Company; 1953.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar